Tentang Hujan Dan Masa Kecilku



Dulu semasa kanak-kanak, aku sangat menyukai hujan. Jika dipikir-pikir alasan kenapa aku sangat menyukai hujan, mungkin karena pada waktu itu segalanya menjadi begitu indah ketika hujan turun. Aku ingat saat aku dan kakakku begitu semangat keluar rumah sehabis hujan untuk melihat pelangi dan tidak akan masuk sampai ia benar-benar menghilang. Kami pun mulai bernyanyi dengan begitu semangat “Pelangi..pelangi.. alangkah indahmu… merah kuning hijau di langit yang biru….” dan lagu itu terus menerus kami ulang seolah mengiringi kehadiran sang pelangi sampai ia benar-benar menghilang.
Aku juga sangat menyukai bau tanah basah ketika hujan pertama kali turun dan suara katak mulai terdengar seolah pertanda telah dimulainya berjuta kesenangan. Ada begitu banyak permainan yang bisa dilakukan diluar rumah setelah hujan, membuat kolam-kolaman dari genangan air, dan berimajinasi seolah kita hidup di dunia yang penuh dengan air, sering juga mandi hujan sambil berkeliling sekitar lingkungan rumah dan mengeksplorasi hal-hal yang hanya bisa terlihat saat hujan, yang yah.. walaupun terkadang setelahnya ibu memarahi dan mencubit kami karena kabur saat dilarang mandi hujan, tapi lebih anehnya lagi itu tidak membuat kami jera.
Saat hujan mulai jarang turun, kesenangan kami tidak berhenti sampai disitu. Permainan baru pun dimulai, kami bisa bermain rumah-rumahan di tanah lembab yang telah ditumbuhi lumut-lumutan, membuat tempe dari tanah berlumut, dan sayur-mayur dari tumbuhan bunga-bungaan yang hanya tumbuh dimusim hujan.
Dulu, di belakang rumah pernah ada kebun delima peninggalan nenek buyutku, sebuah kebun yang tidak terlalu luas dan tidak terawat yang berada ditengah perkampungan. Pada musim kemarau, kebun itu tak lebih terlihat seperti sebuah hutan berduri dan penuh kotoran anjing, tak sedikitpun kami berminat mendekatinya. Namun begitu musim hujan datang, tempat yang semula belantara berduri tiba-tiba berubah menjadi hutan para peri. Pohon-pohon delima yang mulai menunjukkan tunas, tanah yang mulai berwarna hijau karena lumut, tumbuhan-tumbuhan kecil yang tumbuh subur dan mulai berbunga, bahkan kotoran anjing pun bersih tersapu air atau terurai menjadi humus yang menyuburkan tumbuhan-tumbuhan indah disana. Jadilah tempat itu wonderland kami. Setiap hari kami bermain banyak permainan menyenangkan disana.
Saat menjelang akhir musim hujan, ketika hawa musim kemarau mulai terasa, kesenangan itu juga belum habis sebagaimana belum berakhirnya musim hujan, saat hujan mungkin hanya turun sekali seminggu, itulah waktunya memetik buah, buah-buahan yang tumbuh dikebun wonderland kami, buah delima yang mulai masak dan manis, buah jambu biji, jambu, sirsak dan  juga serikaya.
Dan permainan yang paling menyenangkan waktu itu adalah saat menangkap capung dan kupu-kupu. Aku ingat sekali saat aku dan kakakku berlomba mengumpulkan capung terbanyak yang terkadang sampai membuatku mimisan karena terlalu lama ditempat panas, walaupun pada akhirnya tidak ada hadiah dari perlombaan itu dan yang untung ujung-ujungnya hanya ayam-ayam kami yang mendapatkan suplai protein tambahan, tapi itu benar-benar menyenangkan.
Aku juga ingat waktu kami menemukan kepompong yang akan menetas, saat itu kami membantu si kupu-kupu keluar dari kepompongnya, kupu-kupu itu bercorak loreng yang cantik, bahkan kami menamainya si cantik manis. Malangnya, karena proses penetasannya yang terganggu (yang waktu itu kami menganggap membantunya menetas), dia tidak bisa terbang dan sayapnya sedikit bengkok. Namun setelah menunggu sehari semalam, dengan sedikit lemah akhirnya dia bisa mengepakkan sayapnya dan melayang perlahan. Saat itu kami dengan bangga melepasnya dan telah merasa menjadi pahlawan yang telah menyelamatkannya. Aku tidak tahu bagaimana akhir kehidupan si cantik manis setelah itu, yang pasti setiap kupu-kupu bercorak sama yang kami lihat, kami memanggilnya si cantik manis. Menganggap kupu-kupu itu adalah kupu-kupu yang kami selamatkan dulu.
Saat hujan tidak pernah lagi turun, pohon-pohon yang menghijau perlahan menguning dan mulai meranggas, itulah pertanda permainan musim hujan telah berakhir. Saat diluar rumah tidak lagi menyenangkan karena panas dan berdebu, maka hari-hari kami pun menjadi hari-hari bermain dalam rumah sembari menanti datangnya musim hujan selanjutnya. Karena itulah waktu kecil aku sangat menyukai hujan dan sangat menanti kedatangannya.
Sekarang entah mengapa aku tidak lagi merasakan hal yang sama, aku tidak ingat bagaimana aku mulai berhenti menyukai hujan, bahkan aku tidak pernah lagi melihat pelangi, entah karena pelangi yang tidak pernah lagi muncul atau aku yang tidak memperdulikannya. Entahlah, yang kurasakan sepertinya hujan yang dulu tidak seperti hujan sekarang. Seiring bertambahnya usiaku, banyak hal menyenangkan itu tidak lagi semenyenangkan dulu dan perlahan aku melupakannya.
Setelah aku menjadi dewasa seperti sekarang, hujan malah menjadi tidak menyenangkan, aktifitas keluar menjadi terganggu, pakaian yang berhari-hari tidak kering, becek dan dingin serta banyak lagi hal merepotkan yang disebabkan oleh hujan. “Uugghh.. kenapa sih harus hujan hari ini!” gerutuku terkadang saat pakaian yang ingin kupakai besok belum juga kering.
Setelah dipikir-pikir, aku mulai menyadari satu hal yaitu betapa banyak nikmat yang telah dicabut karena aku tidak mensyukurinya. Kita semua tahu bahwa hujan itu adalah rahmat, namun entah sejak kapan bagi beberapa orang hal itu berubah menjadi mudharat bahkan azab, sangat ironis. Aku sadar ketika mengingat diriku waktu kecil, betapa indah rahmat itu diperlihatkan pada mata seorang anak kecil yang polos. Yang saat itu belum pernah sekalipun memahami makna dalam ayat-ayat Al-Quran tapi aku sadar bahwa saat itu aku benar-benar merasakan langsung seperti apa yang tertulis dalam surat Ar-Ruum ayat 48: “…maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” atau bagaimana aku melihat alam yang berubah setelah hujan seperti dalam surat Al-Jaatsiyah ayat 5: “….dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya….”.
Aku memang tidak akan pernah bisa kembali mengulang kebahagiaan masa kecilku tentang hujan, hanya saja ketika aku mulai memikirkannya lagi, anak kecil yang menyukai hujan waktu itu juga diriku, hanya bedanya sekarang jalan pikiranku yang sudah merumit dan dengan hati yang tidak lagi bersih, semakin banyak hal yang tidak kusyukuri sehingga membuatku tidak bahagia.
Ketika aku kecil dulu, mungkin kehidupanku tidak lebih baik dari sekarang, tapi kesederhanan pikiran dan kejernihan hati seorang anak kecil telah membuat segalanya menjadi indah dan ajaibnya aku bisa bahagia. Orang tuaku tidak kaya untuk mampu membelikan banyak mainan keren, tapi tetap saja aku bisa menjalani masa-masa kecilku dengan banyak hal yang menyenangkan untuk dikenang.
Aku mempelajari satu hal dalam hidup ini, bahwa kebahagiaan itu justru terletak pada kesederhanaan dan ketulusan. Memang bukanlah semua hal itu yang menyenangkan, tapi bagaimana kita memandang semua hal itulah yang membuatnya menyenangkan. Dan satu-satunya alasan yang menyebabkan hal itu adalah karena kita mensyukurinya.
"….Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…” (Q.S Ibrahim[14]:7)
Dengan begitu mungkin saja..mungkin saja.. aku bisa lebih bahagia dan mensyukuri kehidupan ini sebagaimana aku bahagia menyambut datangnya musim hujan

Komentar

  1. saya suka hujan...kebahagiaan memang terbukti dari kesederhanaan..juga keihklasan ^_^

    BalasHapus
  2. aaaa >_< coba dihilangkan chaptanya...caranya di design>settings>posts and comments>pilih show word verification di "No". okeee :)

    BalasHapus
  3. udah gitu tapi gak mau ilang..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Obsesif

A Box of Chocolate

Hei.. Mr. I don't know who